Senin, 06 Februari 2017

Siapa?

Sumber : Google

Hujan..

Manusia-manusia di bumi selalu mengatakan bahwa mereka merindukanmu
Manusia-manusia di bumi selalu mengatakan bahwa mereka bahagia atas kedatanganmu
Ada pula yang membenci dan tak mengharapkan kehadiranmu

Lepas dari itu, ada yang ingin aku tanyakan

Adakah yang kamu rindukan di bumi?
Hingga kamu sering sekali menghampiri

Lagi..

Kamu tak pernah memberiku jawaban
Membuatku harus bermain dengan terkaan

Aku rasa..
Yang kamu rindukan adalah awan

Kenapa?
Tanyamu tiba-tiba 

Aku rasa..
Kamu tahu jawabannya 


Kota Intan, 06 Februari 2017

Irma Yulistiani

Ia Mengambil Hati


Ilmu Keluarga dan Konsumen


Aku ingin memperkenalkanmu padanya. Ia yang telah berhasil mengambil dan menduduki singgasana di salah satu ruang dalam hati. Darinya, aku memahami bahwa tiada yang kecil di dunia ini, yang ada hanyalah persepsi yang dibatasi kedangkalan ilmu. Ia adalah IKK “Ilmu Keluarga dan Konsumen”, bidang ilmu yang tengah aku geluti di kampusku. Ah iya, aku tahu. Kamu baru pertama kali mendengarnya bukan?. Iya lah, ia hanya ada satu di Indonesia. Tepatnya di Institut Pertanian Bogor. 

“Tak kenal, maka Ta’aruf”, begitu kalimat yang sering dipakai orang-orang untuk memperkenalkan diri, dan sekarang waktunya aku memperkenalkan dia padamu. Yups, IKK. Bahasa kerennya Family and Consumer Science. Ia adalah ilmu yang berkutat dalam ruang lingkup keluarga, perkembangan anak dan konsumen. Ia mengkaji berbagai fenomena yang ada dalam keluarga, perkembangan anak, dan konsumen berbasis keilmuan dan riset dalam usaha mencetak sumberdaya manusia yang berkualitas. 

Benar, objek pertama dalam mata kuliah- mata kuliah jurusan ini ialah Keluarga. Mengapa keluarga? Karena ia merupakan fundamental unit in society. Artinya, apabila institusi keluarga sebagai pondasi lemah, maka bangunan masyarakat juga akan lemah. Ia menjadi penggerak penting dan penopang dasar dari pembangunan bangsa. 

Aku rasa kamu mulai mengenalnya sekarang.

Ia mengajarkanku. Mengajarkanku berbagai hal yang menyentuh hati dan meluaskan pikiran. Mulai dari berbagai perubahan yang akan dialami individu saat mengarungi bahtera rumah tangga, pasang-surut dan kiat menciptakan serta mempertahankan keluarga yang harmonis, bagaimana seharusnya orang tua melakukan pengasuhan, menanamkan pendidikan karakter untuk mencetak generasi berkualitas, hingga sikap keluarga sebagai konsumen dalam menghadapi situasi ekonomi guna menjaga keutuhan rumah tangga. 

Ia menyadarkanku. Menyadarkanku untuk bersiap dan bersiaga. Maka, aku mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pepatah arab mengatakan “Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok”. Artinya, bagaimana kita menginginkan anak sholih/ sholihah (generasi yang diharapkan) apabila diri sendiri pun belum mencapai kesholihan tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” -Q.S At Tahrim:6-

Firman Allah SWT tersebut menunjukkan pentingnya usaha membangun sebuah keluarga madani. Keluarga adalah tempat pertama dan utama seorang anak dididik dan dibesarkan. Apabila keluarga gagal mengajarkan kejujuran, perangai yang baik, semangat maupun kemampuan-kemampuan dasar, maka akan sulit sekali bagi lembaga lain untuk memperbaiki kegagalan-kegagalan tersebut.

Segala sesuatu yang dahulu ku anggap remeh, kini berubah menjadi sesuatu yang teramat penting untuk ku perhatikan dan ku lakukan. 

Sekarang kamu mengenalnya kan?

Setelah kamu mengenalnya, aku harap tiada lagi pandangan kerdil terhadapnya. Sekali lagi aku katakan bahwa ia telah berhasil menduduki singgasana di salah satu ruang dalam hati.

Bahagia dan bersyukur karena Allah SWT menjadikanku bagian darinya.



Kota Intan, 03 Februari 2017
Irma Yulistiani

Fatherhood

Aku dan Ayah
Sumber : Google

Pernah mendengar kisah Nabi Yaqub a.s dengan anaknya, Nabi Yusuf a.s?

“Dan ketika kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir), ayah mereka berkata, ‘Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)”-QS. Yusuf : 93-

Begitulah perkataan Nabi Yaqub a.s kepada keluarganya tentang Nabi Yusuf a.s yang diabadikan dalam Al Quran. Meskipun jarak dan waktu telah membentang begitu jauh dan lama memisahkan antara Nabi Yaqub a.s dan Nabi Yusuf a.s, Nabi Yaqub a.s masih mengingat bau Nabi yusuf a.s.  Mengapa hal ini dapat terjadi? Ini karena kedekatan yang terjalin diantara Nabi Yaqub a.s dengan Nabi Yusuf a.s. Nabi Yaqub a.s telah berhasil membangun bonding yang kuat dengan Nabi Yusuf a.s. 

Belajar dari kisah Nabi Yaqub a.s dan Nabi Yusuf a.s., menyadarkan kita kepada pemahaman pentingnya peran seorang ayah dalam tumbuh kembang anak-anaknya. Q.S Yusuf menceritakan perjalanan hidup Nabi Yusuf a.s yang penuh dengan ujian. Akan tetapi, di bagian akhir ayat surah tersebut juga menceritakan keberhasilan Nabi Yusuf a.s menjadi seorang raja. Tentunya, hal tersebut tidak didapat begitu saja, keberhasilan yang diraih Nabi Yusuf a.s tak terlepas dari peran serta Nabi Yaqub a.s saat mendidiknya. Di sana peran ayah bermain. 

Berbagai penelitian membuktikan bahwa ikatan emosional yang berhasil dibangun antara seorang ayah dan anak, menunjukkan bahwa anak memiliki kecerdasan emosional yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilannya di masa depan. Penelitian Ilmu Psikologi menemukan bahwa peran ayah sangat besar dalam pertumbuhan anak perempuan. Kedekatan dengan sang ayah menjadi sisi pengaman anak perempuan agar tidak mudah terjebak dalam seks pranikah. Seorang anak perempuan membutuhkan figur seorang pria yang mengasihi pada masa pertumbuhannya, dan kehadiran ayah di masa tumbuh kembangnya inilah yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Ayah seringkali dipandang hanya sebagai pencari nafkah dalam keluarga. Perlu digaris bawahi, peran seorang ayah lebih dari sekedar pemegang peran ekonomi. Kerana peran seorang ayah terhadap tumbuh kembang anak seringkali dianggap nomor dua oleh sebagian besar masyarakat, sehingga pada akhirnya anak-anak kehilangan sosok ayah dalam kehidupan mereka. Padahal, kedekatan dengan orang tua adalah pondasi penting bagi tumbung kembang anak, pembentukan karakter anak dan akan memengaruhi kecerdasan anak.

Teruntuk para dan calon ayah. Mainkan peranmu sebagai sejatinya seorang Ayah. Memberikan kasih sayang, pengajaran dan keteladanan seperti Ibrahim a.s kepada Ismail a.s, Yaqub a.s kepada putra-putranya, dan Rasulullah Muhammad SAW kepada cucunya Hasan dan Husein.



Kota Intan, 04 Februari 2017
Irma Yulistiani

Sumber : Renungan, Inspirasi dari Seorang Ayah, Mata Kuliah